Kebijaksanaan Ekonomi Makro

9 min read

Kebijaksanaan Ekonomi Makro

Ekonomi Makro

Pada tahun 1929-1933 terjadi adanya The Great Depression. Yaitu kejadian dimana negara-negara diseluruh dunia mengalami masalah ekonomi.

Angka pengangguran meningkat, output ekonomi berkurang, investasi merosot tajam. Keadaan ini membuat hipotesis mengenai ekonomi klasik pun dipertanyakan. Karena paham ekonomi klasik hanya tergantung oleh mekanisme pasar.

Keadaan ini mendorong seorang ahli ekonomi terkemuka inggris bernama John Maynard Keynes mengemukakan pendapat dalam buku The General Theory of Employment Interest and Money.

Ekonomi makro adalah studi tentang ekonomi secara keseluruhan. Ekonomi makro menjelaskan perubahan ekonomi yang mempengaruhi banyak masyarakat, perusahaan dan pasar.

Ekonomi makro dapat digunakan untuk menganalisis cara terbaik untuk memengaruhi target-target tenaga kerja dan pencapaian keseimbangan neraca yang berkesinambungan.

Ilmu ekonomi makro hanya membahas variabel-variabel yang berhubungan dengan gejala-gejala perekonomian secara keseluruhan, secara totalitas, atau gejala umum, bukan perilaku dari pelaku ekonomi secara individual.

Secara umum terdapat beberapa variabel yang menjadi isu utama ekonomi makro.

Perkembangan Ilmu Ekonomi Makro

Ekonomi makro berkembang berawal dari kegagalan ekonomi klasik yang sangat fanatik terhadap konsep mekanisme pasar dalam mengatur perekonomian.

Adam Smith sebagai tokoh ekonomi klasik pada tahun 1776 menulis buku yang berjudul The Wealth of Nations meyakinkan para ahli ekonomi klasik bahwa konsep invisible hand atau bekerjanya mekanisme pasar dapat menentukan produk apa yang akan dihasilkan.

Analisis ekonomi makro mulai berkembang dengan pesat setelah seorang ahli ekonomi Inggris yaitu John Maynard Keynes pada tahun 1936 menerbitkan buku yang berjudul The General Theory of Employment, Interest and Money.

Pelaku Pelaku Ekonomi

Masyarakat pelaku ekonomi dapat dibagi dalam empat kelompok dan masing-masing mempunyai peranan dan tujuan.

  • Households atau Rumah Tangga Konsumsi

Peranan RTK dalam kegiatan ekonomi antara lain sebagai berikut : Sebagai pemilik atau pemasok sumber daya atau faktor produksi yang diperlukan kelompok pelaku ekonomi lainnya.

  • Bussines atau Rumah Tangga Produksi

Peranan RTP dalam kegiatan ekonomi antara lain sebagai berikut : Sebagai penghasil atau pemasok barang-barang hasil produksi kelompok masyarakat lainnya.

  • Government Sector, Rumah Tangga Negara

Peranan RTN dalam kegiatan ekonomi antara lain sebagai berikut : Sebagai penghasil barang public, sebagai pemakai faktor produksi dari RTK dan dari luar negeri (RTLN).

  • Foreign Sector, Rumah Tangga Luar Negri

Peranan RTLN dalam kegiatan ekonomi antara lain sebagai berikut : Sebagai penghasil barang dan jasa yang dibutuhkan kelompok pelaku kegiatan ekonomi lainnya, sebagai pemasok faktor produksi yang dibutuhkan kelompok pelaku ekonomi lainnya.

Kebijaksanaan Ekonomi Makro

Kerangka kerja penawaran dan permintaan agregat menegaskan bahwa di bawah kondisi tertentu, kebijaksanaan ekonomi makro mempunyai peluang untuk meluaskan, atau bahkan memperkecil permintaan.

Para pembuat kebijaksanaan memiliki dua kelompok besar alternatif kebijaksanaan yang dapat digunakan untuk mempengaruhi kehidupan ekonomi. Kebijaksanaan moneter diatur oleh bank sentral (Federal Reserved System).

Instrumen kebijaksanaan moneter adalah perubahan cadangan uang yang beredar, perubahan tingkat suku bunga – tingkat diskonto – di mana Bank Sentral meminjamkan uang kepada Bank Komersial, dan pengawasan terhadap sistem perbankan.

Kebijakasanaan  fiskal adalah bidang kewenangan parlemen, dan biasanya diprakarsai oleh lembaga  eksekutif. Instrumen kebijaksanaan fiskal adalah tarif pajak dan besarnya tingkat pengeluaran pemerintah.

Satu dari kenyataan pokok kebijaksanaan adalah bahwa pengaruh kebijaksanaan moneter dan fiskal terhadap perekonomian tidak sepenuhnya dapat diramalkan, baik yang berkaitan dengan waktu maupun tingkat pengaruhnya terhadap permintaan dan penawaran.

Kedua aspek ketidakpastian ini merupakan inti dari masalah kebijaksanaan stabilisasi. Kebijaksanaan stabilisasi adalah kebijaksanaan moneter dan fiskal yang dirancang untuk memperlunak fluktuasi perekonomian  –  terutama  fluktuasi pada laju pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan tingkat pengangguran.

Fluktuasi yang besar pada laju inflasi dan tingkat pengangguran, yang dengan terang-terangan memperlihatkan bahwa kebijaksanaan stabilisasi belum sepenuhnya berhasil menurunkan tingkat kedua variabel tersebut.

Kegagalan kebijaksanaan stabilisasi ini terjadi karena unsur ketidakpastian mekanisme kerja dari kebijaksanaan tersebut terhadap perekonomian. Betapapun, masalah ekonomi politik juga terlibat dalam penerangan kebijaksanaan stabilisasi.

Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menghapuskan tingkat pengangguran, dengan konsekuensi meningkatnya laju inflas, jelas merupakan suatu masalah penilaian mengenai kondisi perekonomian maupun kerugian yang mungkin timbul akibat terjadinya kekeliruan.

Mereka yang lebih mengkhawatirkan kerugian yang diakibatkan oleh pengangguran dibanding dengan kerugian yang terjadi karena adanya tekanan inflasi akan bersedia menanggung beban inflasi yang semakin tinggi untuk mengurangi tingkat pengangguran daripada mereka yang menganut pandangan yang sebaliknya.

Ekonomo politik mempengaruhi kebijaksaan stabilisasi melalui cara-cara yang lebih beragam dibanding melalui kemungkinan risiko yang seringkali dikaitkan oleh sejumlah pengambil kebijaksanaan dari aliran politik yang berbeda pada inflasi dan pengangguran dari risiko yang siap untuk mereka hadapi dalam rangka menyehatkan situasi kehidupan ekonomi.

Pun terhadap apa yang disebut dengan siklus ekonomi politik, yang pada prinsipnya didasarkan pada observasi bahwa hasil pemilihan umum, dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang berlaku ketika itu.

Bila keadaan ekonomi telah membaik dan tingkat pengangguran telah menurun, presiden yang sedang berkuasa akan cenderung terpilih kembali.

Dengan demikian, para pembuat kebijaksanaan sangat terangsang untuk berusaha terpilih kembali, atau bagi siapa saja yang ingin mempengaruhi hasil pemilihan umum, untuk menggunakan kebijaksanaan stabilisasi guna menciptakan kondisi ekonomi yang baik sebelum dilaksanakannya pemilihan umum.

Kebijaksanaan stabilisasi juga dikenal dengan contercylical policy, yakni kebijaksanaan untuk memperlunak siklus perdagangan ataupun siklus ekonomi.

Kebijaksanaan stabilisasi yang berhasil akan meratakan siklus yang terjadi, sementara kebijaksanaan stabilisasi yang gagal mungkin justru akan memperburuk fluktuasi perekonomian.

Memang salah satu dari doktrin moneterisme adalah bahwa fluktuasi yang besar pada perekonomian lebih banyak terjadi karena tindakan pemerintah, dan bukan ketidakstabilan yang menjadi ciri dari sektor swasta dalam kegiatan ekonomi.

Permasalahan Ekonomi Makro

Berikut ini adalah beberapa permasalahan yang sering terjadi pada ekonomi makro

  1. Inflasi

Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan) kepada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi.

Timbulnya Inflansi

“inflasi” semata-mata suatu gejala ekonomi, dimana kecenderungan harga-harga untuk naik secara bersamaan. Sebab-sebab timbulnya inflasi khusus dari segi ekonomi ; dan penentuan sebab-sebab “ekonomis obyektif” ini mungkin bukanlah tugas yang paling sukar.

Biasanya kita harus melampaui batas-batas ilmu ekonomi dan memasuki bidang ilmu sosiologi dan ilmu politik.

Masalah inflasi dalam arti yang lebih luas bukan semata-mata masalah ekonomi, tetapi masalah sosio-ekonomi-politis.

Ilmu ekonomi membantu kita ntuk mengidentifikasikan sebab-sebab obyektif  dari inflasi, misalnya saja karena pemerintah mencetak uang terlalu hanyak.

Kalau kita mempertanyakan mengapa pemerinlah harus mencetak uang, meskipun mereka tahu bahwa tindakan tersebu mengakibatkan inflasi .seringkali jawabannya terletak di bidang sosial politik.

Kebijakan Fiskal

Kebijakan Fiskal adalah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mendapatkan dana dan kebijaksanaan yang ditempuh oleh pemerintah untuk membelanjakan dananya dalam rangka melaksanakan pembangunan.

Atau, kebijakan fiscal adalah kebjakan pemerintah yang berkaitan dengan penerimaan atau pengeluaran Negara.Dari semua unsur APBN dan pajak yang dapat diatur oleh pemerintah dengan kebijakan fiscal.

Contoh kebijakan fiscal adalah apabila perekonomian nasional mengalami inflasi, pemerintah dapat mengurangi kelebihan permintaan masyarakat dengan cara memperkecil pembelanjaan dan menaikkan pajak agar tercipta kestabilan lagi.

Cara demikian disebut dengan pengelolaan anggaran. Tujuan kebijakan fiscal adalah untuk mempengaruhi jalannya perekonomian.

Hal ini dilakukan dengan jalan memperbesar dan memperkecil pengeluaran komsumsi pemerintah (G), jumlah transfer pemerntah (Tr), dan jumlah pajak (Tx) yang diterima pemerintah sehingga dapat mempengaruhi tingkat pendapatan nasional (Y) dan tingkat kesempatan kerja (N).

Kebijakan fiskal bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara optimal. Kebijakan fiskal sangat berhubungan dengan pemasukan atau pendapatan negara, diantara pendapatan negara antara lain misalnya : bea dan cukai, devisa negara, pariwisata, pajak penghasilan, pajak bumi dan bangunan, impor, dan lain-lain. Macam-macam Kebijakan Fiskal :

  • Functional Finance : Pembiayaan pemerintah yang bersifat fungsional
  • The Managed Budget Approach : Pendekatan pengelolaan Anggaran
  • The Stabilizing Budget : Stabilisasi anggaran yang otomatis, apabila model ini gagal, maka pemerintah dapat meningkatkan pengeluarannya seperti dengan menaikkan gaji PNS atau subsidi
  • Balance Budget Approach : Pendekatan Anggaran Belanja berimbang, namun bila terlambat penyesuaian (Perubahan Anggaran Keuangan), maka kepercayaan masyarakat akan hilang.

Uang

Dari zaman ke zaman uang terus berkembang diseluruh negara di belahan dunia, dikarenakan uang adalah alat transaksi dan alat tukar suatu produk barang atau jasa. Namun dalam pembahasan ini adalah masalah uang dalam ekonomi makro.

Fungsi uang, yaitu antara lain : Uang sebagai satuan nilai, yang maksudnya sebagai satuan moneter yang berfung si sebagai nilai suatu barang atau jasa.

Uang sebagai alat tukaar, uang sebagai alat yang mempermudah masyarakat dalam urusan pertukaran. Uang sebagai gudang nilai, yang maksudnya adalah uang sebagai alat tukar baik sepanjang waktu maupun sewaktu-waktu

Dalam  motif seseorang memegang uang keynes mencetuskan dalam teori preferensi likuidasi menjelaskan bahwa ada 3 motif masyarakat dalam memegang uang, yaitu :

Motif Transaksi

Motif transaksi, Keynes menekankan komponen permintaan uang di tentukan oleh tingkat transaksi setiap orang.

Oleh karena itu semakin tinggi pendapatan seseorang maka semakin tinggi pula permintaan barang atau jasa seseorang tersebut.  Permintaan tersebut di pengaruhi oleh tinggi rendahnya pendapatan nasional.

Motif Berjaga – Jaga

Motif berjaga-jaga, uang di gunakan sebagai alat untuk menghadapi ketidakpastian akan kebutuhan di masa mendatang.

Keynes percaya bahwa jumlah uang yang digunakan berjaga-jaga tergantung pada ekspektasi transaksi di masa mendatang.

Motif Spekulatif

Motif spekulatif, Keynes juga sependapat bahwa uang merupakan alat ukur kekayaan .sehingga salah satu alasan seseorang memegang uang adalah alasan spekulatif.

Pandangan Keynes

Teori ekonomi makro berkembang setelah J.M Keynes menunjukan kelemahan-kelemahan pandangan para ahli ekonomi klasik mengenai penentuan tingkat perekonomian suatu negara yang di dasari oleh penggunaan tenaga kerja penuh.

Pandangan Keynes yaitu penggunaan tenaga kerja penuh (full employment) adalah keadaan yang jarang terjadi , dan hal itu disebabkan karena kekurangan permintaan agregat yang wujud dalam perekonomian.

Keadaan ini menyebabkan pertambahan dalam tingkat kegiatan ekonomi dan penggunaan tenaga kerja dan faktor-faktor produksi.

Pengangguran

Pengangguran merupakan masalah pokok yang dihadapi bangsa Indonesia. Terbatasnya jumlah lapangan kerja sementara jumlah penduduk semakin berkembang pesat akan sangat memicu tingginya angka pengangguran.

Salah satu upaya pemerintah dalam mengurangi angka pengangguran adalah dengan menciptakan lapangan pekerjaan.

Pemerintah juga melakukan pelatihan tenaga kerja sehingga tenaga kerja memiliki keahlian yang dibutuhkan dalam lapangan kerja.

Pengangguran di Indonesia disebabkan antara lain pendidikan lebih banyak memberikan kompetensi kepada para peserta didik dalam bentuk koqnitif (teori), sedangkan kompetensi yang bersifat psikomotor (praktek) yang bisa menjadi bekal jika peserta didik sudah lulus dan terjun dimasyarakan sangat kecil.

Sehingga sumber daya manusia yang dihasilkan pendidikan kurang mampu bersaing di dunia kerja dan masyarakat Indonesia lebih cenderung mencari pekerjaan bukan menciptakan lapangan pekerjaan.

Konsenkuensi dari Perekonomian Terbuka Masalah Keseimbangan Intern dan Keseimbangan Ekstern

Perekonomian terbuka disamping sasaran tersebut ada satu sasaran lain yang biasanya ingin pula dicapai, yaitu neraca pembayaran yang seimbang. sasaran yang kedua ini sering disebut dengan istilah keseimbangan ekstern atau eksternal balance.

ada dua masalah pokok dalam teori ekonomi makro yang berkaitan dengan sasaran keseimbangan intern dan keseimbangan ekstern ini. yang pertama adalah masalah kemungkinan ketidakserasian antara kedua sasaran tersebut. Bila keseimbangan ekstern otomatis tercapai.

Demikian pula sebaliknya tercapainya keseimbangan intern .masalah pokok yang kedua yang berkaitan erat   dengan masalah pertama, berkisar sekitar peneentuan kebijaksanaan atau kombinasi dari kebijaksanaan –kebijaksanaan yang tepat bagi tercapainya kedua sasaran tersebut secara bersama –sama.

secara teeoritis bisa ditunjukan bahwa kedua sasaran tersebut bisa dicapai slimutan asal saja dirumuskaan suatu kobinasi yang tepaat antara kebijaksanaan yang bersifat meempengaruhi komposisi pengeluaran tersebut .

Kelemahan Analisis Makro Ekonomi

Analisisnya Merupakan Analisis Jangka Pendek. Bahwa analisis makroekonomi pada dasarnya merupakan analisa jangka pendek, dapat dibuktikan dari beberapa pemisalan yang dibuat dalam teori tersebut.

Dari sifat – sifat analisisnya dapat disimpulkan bahwa teori tersebut antara lain memisalkan terdapatnya keadaan – keadaan berikut: kapasitas alat – alat produksi tetap, jumlah tenaga kerja tidak berubah, dan tidak terdapat perbaikan dalam tingkat teknologi yang digunakan. Keadaan seperti ini hanya terdapat dalam jangka pendek.

Dalam jangka panjang pertambahan penduduk menyebabkan kenaikan dalam jumlah tenaga kerja, penanaman modal oleh para pengusaha menyebabkan kapasitas barang modal bertambah tinggi, sedangkan invensi dan inovasi yang terus menerus terjadi menyebabkan teknologi yang digunakan selalu mengalami perbaikan.

Dengan adnya perubahan- perubahan ini tingkat produksi dapat terus menerus bertambah. Sedangkan dalam teori makro ekonomi pada umumnya dianggap terdapat satu tingkat pendapatan nasional tertentu yang merupakan tingkat pendapatan maksimal yang dapat dicapai.

Keadaan ini disebabkan oleh pemisalan – pemisalan yang disebabkan di atas. Kelemahan teori makroekonomi yang baru dinyatakan ini sudah lama disadari oleh ahli – ahli ekonomi.

Untuk memperbaikinya, dengan dipelopori oleh Harrod dan Domar, ahli – ahli ekonomi sesudah Keynes mulai menelaah kembali berbagai persoalan pertumbuhan ekonomi. Tetapi, bagian ini bukanlah bagian yang terutama dari teori makroekonomi.

Lagi pula teori – teori yang dikembangkan tersebut juga masih belum cukup memadai untuk digunakan dalam menganalisis masalah – masalah pembangunan yang dihadapi negara berkembang, dan untuk landasan dalam merumuskan kebijakan pembangunan.

Antara lain kelemahan teori tersebut adalah terlalu mengagungkan peranan modal dalam pembangunan, mengabaikan peranan faktor – faktor bukan ekonomi (non-ekonomi) dalam pembangunan, dan beberapa pemisalan – pemisalan yang digunakan dalam teori – teori tersebut jauh berbeda dengan kenyataan yang ada di negara berkembang.

  • Tidak Menganalisis Faktor Non-Ekonomi

Tidak terdapatnya analisis mengenai pengaruh kedaan sosial, struktur sosial, suasana politik, nilai – nilai hidup, corak pandangan masyarakat  dan corak kebudayaan masyarakat terhadap kegiatan ekonomi merupakan kelemahan lain dari analisis makroekonomi.

Teori makroekonomi menganggap kegiatan ekonomi dalam masyarakat sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor – faktor yang bersifat ekonomi dan didasarkan pada keinginan untuk mempertinggi efisiensi penggunaan faktor – faktor produksi yang dimiliki.

Dalam hal ini analisis makroekonomi masih tetap mempertahankan pendapat ahli – ahli ekonomi Klasik yang menganggap bahwa setiap anggota masyarakat tanpa memandang apakah ia seorang pekerja, konsumen, produsen, atau pemilik modal akan berusaha untuk mencapai tingkat pendapatan, keuntungan atau kepuasan yang sebesar – sebesarnya.

Para pekerja akan berusaha untuk memperoleh gaji atau pendapatan lain pada tingkat yang paling maksimal yang dapat dicapai. Para pengusaha akan berusaha untuk mencapai tingkat keuntungan paling tinggi yang mungkin diperoleh.

Dan sebagai konsumen, mereka para pengusaha dan para pekerja akan berusaha untik mencapai kepuasan paling maksimal dengan menggunakan sejumlah tertentu pendapatan mereka.

Demikian juga analisis makroekonomi menganggap bahwa struktur sosial dan keadaan institusi dalam masyarakat sesuai dengan tujuan setiap anggota masyarakat untuk memperoleh pendapatan, keuntungan, dan kepuasan yang paling maksimal yang mungkin dicapai.

Pemisalan – pemisalan ini kurang sesuai untuk digunakan dalam analisis kegiatan ekonomi negara berkembang. Di dalam masyarakat yang masih dipengaruhi oleh struktur masyarakat yang tradisional, kegiatan masyarakat sering kali menyimpang dari yang digambarkan dalam teori ekonomi konvensional.

Hal ini mungkin menyebabkan hambatan terhadap usaha untuk mempercepat pembangunan di negara berkembang.

  • Kurang Memperhatikan Sektor Luar Negeri

Dalam analisis makroekonomi penanaman modal oleh para pengusaha dipandang sebagai faktor terpenting yang menentukan tingkat kegiatan ekonomi; sedangkan sektor luar negeri dipandang tidak memegang peranan sepenting seperti penanaman modal.

Di banyak negara berkembang keadaan yang sebaliknya yang lebih banyak berlaku. Sektor luar negeri lebih besar pengaruhnya daripada kegiatan penanaman modal dalam menentukan  gelombang naik turunnya tingkat kegiatan ekonomi.

Dari sudut ekspor, keadaan ini terutama ditimbulkan oleh salah satu atau gabungan dari kedua faktor berikut : (i) persentase ekspor dari seluruh pendapatan nasional pada umunya lebih tinggi daripada persentase tingkat penanaman modal; dan (ii) di banyak negara berkembang sebagian besar barang – barang ekspor merupakan bahan mentah, di mana dua atau tiga jenis bahan tersebut merupakan bagian besar dari keseluruhan ekspor.

Seperti telah dijelaskan, faktor yang kedua ini menyebabkan di negara berkembang jumlah penerimaan ekspor cenderung untuk mengalami perubahan yang lebih besar kalau dibandingkan dengan pendapatan ekspor di negara maju.

Dari sudut impor, negara berkembang sangat tergantung kepada negara yang lebih maju dalam melaksanakan pembangunan dan industrialisasi. Sebagian besar barang modal untuk keperluan itu harus diimpor.

Maka maju mundurnya kegiatan pembanguan sangat dipengaruhi oleh tersedianya devisa  untuk mengimpor barang – barang tersebut dan bahan – bahan mentah untuk keperluan pembangunan.

Dengan demikian, baik dipandang dari sudut ekspor maupun dipandang dari sudut impor, terdapat kekuatan-kekuatan yang menyebabkan perekonomian menghadapi keadaan naik turun yang lebih besar dalam kegiatannya dari masa ke masa.

Fluktuasi ini jauh lebih serius dari fluktuasi kegiatan ekonomi yang ditimbulkan oleh perubahan-perubahan dalam jumlah penanaman modal yang dilakukan oleh para pengusaha.

Demikian pembahasan dari kami tentang Kebijaksanaan Ekonomi Makro dan Permasalahan Secara lengkap dan jelas, semoga bermanfaat jangan lupa di share sobat WebChecKer.Me