Struktur dan Unsur – Unsur Paragraf Narasi

September 14, 2021 by Tidak ada Komentar

Pengertian Karangan Narasi

Narasi adalah cerita. Cerita ini berdasarkan pada urutan-urutan  atau  suatu (serangkaian) kejadian atau peristiwa-peristiwa. Dalam kejadian itu ada tokoh atau (beberapa tokoh), dan tokoh ini mengalami atau menghadapi suatu atau (serangkaian) konflik atau tikaian.

Kejadian, tokoh, dan konflik ini merupakan unsur pokok sebuah narasi, dan ketiganya secara kesatuan bisa pula disebut alur atau plot. Narasi bisa berisi fiksi bisa pula fakta atau rekaan, yang direka atau dikhayalkan oleh pengarangnya saja.

Karangan narasi (berasal dari naration berarti bercerita) adalah suatu bentuk tulisan yang berusaha menciptakan, mengisahkan, dan merangkaikan tindak tanduk perbuatan manusia dalam sebuah peristiwa secara kronologis atau berlangsung dalam suatu kesatuan waktu (Finoza, 2008:202).

Narasi bertujuan menyampaikan gagasan dalam urutan waktu dengan maksud menghadirkan di depan mata angan-angan pembaca serentetan peristiwa yang biasanya memuncak pada kejadian utama (Widyamartaya, 1992:9-10).

Narasi merupakan bentuk percakapan atau tulisan yang bertujuan menyampaikan atau menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman maksud manusia dari waktu ke waktu.

Selanjutnya, Keraf (2007:136) mengatakan bahwa karangan narasi merupakan suatu bentuk karangan yang sasaran utamanya adalah tindak tanduk yang dijalin dan dirangkai  menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu kesatuan waktu.

Atau dapat juga dirumuskan dengan cara lain; narasi adalah suatu bentuk karangan yang berusaha mennggambarkan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa narasi merupakan cerita  yang berusaha menciptakan, mengisahkan, dan merangkaian tindak tanduk manusia dalam sebuah peristiwa atau pengalaman manusia dari waktu ke waktu, juga didalamnya terdapat tokoh yang menghadapi suatu konflik yang disusun secara sistematis.

Dengan demikian, dapat diketahui ada beberapa hal yang berkaitan dengan narasi. Hal tersebut meliputi:

  1. Berbentuk cerita atau kisahan
  2. Menonjolkan pelaku
  3. Menurut perkembangan dari waktu ke waktu,
  4. Disusun secara sistematis.

Tujuan Menulis Narasi

Berdasarkan tujuannya, karangan narasi memiliki tujuan sebagai berikut.

  1. Agar pembaca seolah-olah sudah menyaksikan atau mengalami kejadian yang diceritakan.
  2. Berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi, serta menyampaikan amanat terselubung kepada pembaca atau pendengar.
  3. Untuk menggerakkan aspek emosi.
  4. Membentuk citra/imajinasi para pembaca.
  5. Menyampaikan amanat terselubung kepada pembaca atau pendengar.
  6. Memberi informasi kepada pembaca dan memperluas pengetahuan.
  7. Menyampaikan sebuah makna kepada pembaca melalui daya khayal yang dimilikinya.

Prinsip – Prinsip Narasi

Menurut Suparno dan Yunus (2008), Bahwa dalam menulis sebuah karangan narasi perlu diperhatikan prinsip-prinsip dasar narasi sebagai tumpuan berpikir bagi terbentuknya karangan narasi. Prinsip-prinsip tersebut, yaitu:

  1. Alur(plot), merupakan rangkaian pola tindak-tanduk yang berusaha memecahkan konflik yang terdapat dalam narasi.
  2. Penokohan, merupakan salah satu ciri khas narasi ialah mengisahkan toko cerita bergerak dalm suatu rangkaian peristiwa dan kejadian. Tindakan, peristiwa, kejadian, itu disusun bersama-sama sehingga mendapatkan kesan atau efek tunggal.
  3. Lattar, ialah tempat dan/ atau waktu terjadinya pebuatan tokoh atau peristiwa yang dialami tokoh.
  4. Sudut Pandang, Sudut pandang dalam narasi menjawab pertanyaan siapakah yang menceritakan kisah ini. Apapun sudut pandang yang dipilih pengarang akan menentukan sekali gaya dan corak cerita. Sebab, watak dan pribadi isi pencerita akan banyak menentukan cerita yang diuturkan pada pembaca.

Detail – Detail dalam Narasi

Detail-detail yang harus diperhatikan dalam karangan narasi adalah sebagai berikut.

  1. Detail-detail dalam narasi disusun dalam sekuensi ruang dan waktu yang menyarankan adanya bagian awal, tengah, dan akhir.
  2. Jika cerita menyangkut latar tempat, maka pengisahan mengalami pergantian dari suatu tempat ke tempat lain.
  3. Jika cerita menyangkut latar waktu, maka pengisahan mengalami pergantian dari suatu waktu ke waktu lain.
  4. Jika cerita menyangkut perbuatan, maka tokoh pengisahan mengalami gerakan dari suatu adegan ke adegan berikutnya.
  5. Disamping tu, narasi bisa juga dikembangkan dengan menggunakan deskripsi, eksposisi, dan dialog.
  6. Dalam cerita, rangkaian peristiwa sangat penting.

Pola Pengembangan Narasi

Menurut Semi (dalam Suparno dan Yunus, 2008), tulisan narasi biasanya mempunyai pola. Pola sederhana berupa awal peristiwa, tengah peristiwa, dan akhir peristiwa. Awal narasi berisi pengantar, yaitu memperkenalkan suasana dan tokoh.

Bagian awal harus dibuat menarik agar dapat mengikat pembaca. Dengan kata lain, bagian ini mempunyai fungsi khusus untuk memancing pembaca dan menggiring pembaca pada kondisi ingin tahu kejadian selanjutnya.

Bagian tengah merupakan bagian yang menjelaskan secara panjang lebar tentang peristiwa. Dibagian ini, penulis memunculkan konflik. Kemudian konflik tersebut diarahkan menuju klimaks cerita. Setelah konflik mencapai klimaks, secara berangsur-angsur cerita akan mereda.

Bagian akhir cerita yang mereda ini memiliki cara pengungkapan bermacam-macam. Ada yang menceritakan dengan panjang, ada yang singkat, ada pula yang berusaha menggantungkan akhir cerita dengan mempersilakan pembaca untuk menebaknya sendiri.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengembangan tulisan dengan teknik narasi dilakukan dengan mengemukakan  rangkaian peristiwa yang terjadi secara kronologis. Teknik pengembangan narasi diidentikkan dengan penceritaan (storitelling), karena teknik ini biasanya selalu digunakan untuk menyampaikan suatu cerita.

Karangan-karangan berbentuk cerita pada umumnya merupakan karangan fiksi. Namun, teknik narasi ini tidak hanya digunakan untuk mengembangkan tulisan-tulisan berupa fiksi saja. Teknik narasi ini dapat pula digunakan untuk mengembangkan penulisan karangan nonfiksi (Syafie’ie, dam Suparno dan Yunus, 2008).

Langkah – langkah Pengembangan Narasi

Langkah-langkah mengembangan narasi adalah sebagai berikut.

  1. Tentukan dulu tema dan amanat yang akan disampaikan.
  2. Tetapkan sasaran pembaca kita.
  3. Rancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk skema alur.
  4. Bagi peristiwa utama itu ke dalam bagian awal, pengembangan, dan akhir cerita.
  5. Rincian peristiwa-peristiwa utama ke dalam detail-detail peristiwa sebagai pendukung cerita.
  6. Susun tokoh dan perwatakan, latar, dan sudut pandang.

Ciri – ciri Karangan Narasi

Menurut Keraf (2007:136) ciri-ciri karangan narasi, yaitu:

  • Menonjolkan unsur perbuatan atau tindakan.
  • Dirangkai dalam urutan waktu.
  • Berusaha menjawab pertanyaan, apa yang terjadi?
  • Ada konflik. Narasi dibangun oleh sebuah alur cerita.

Alur ini tidak akan menarik jika tidak ada konflik. Selain alur cerita, narasi dibangun oleh konflik dan susunan kronologis.

Ciri-ciri narasi lebih lengkap lagi diungkapkan lagi oleh Atar Semi yaitu sebagai berikut.

  1. Berupa cerita tentang peristiwa atau pengalaman penulis.
  2. Kejadian atau peristiwa yang disampaikan berupa peristiwa yang benar-benar terjadi, dapat semata-mata imajinasi atau gabungan keduanya.
  3. Berdasarkan konflik, karena tanda konflik biasanya narasi tidak menarik.
  4. Memiliki nilai estetika.
  5. Menekankan susunan secara kronologis.

Jenis – jenis Karangan Narasi

  1. Narasi Ekspositoris (Narasi Faktual)

Narasi Ekspositoris adalah narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi secara tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan orang tentang kisah seseorang.

Penulis menceritakan suatu peristiwa data yang sebenarnya. Eksposisi juga berlaku pada penulisan narasi eksporitoris. Berdasarkan fakta yang ada, tidak memasukkan unsur-unsur sugestif atau bersifat objektif.

Narasi ekspositoris bertujuan untuk menggugah pikiran dan untuk mengetahui apa yang dikisahkan. Sasaran utamanya adalah rasio. Narasi ekspositoris bersifat khas atau khusus.

Narasi ekspositoris merupakan jenis karangan narasi yng mengutamakan kisah yang sebenarnya dari tokoh yang diceritakan.

  1. Narasi Sugestif ( Narasi Artistik)

Narasi Sugestif adalah narasi yamg berusaha untuk memberikan maksud tertentu, narasi sugestif juga bertalian dengan tindakan atau perbuatan yang dirangkaikan dalam suatu kejadian atau peristiwa (Keraf, 2007:138).

Dalam narasi ini, pengarang diizinkan menggunakan daya khayal untuk menghidupkan suatu cerita.

Unsur – Unsur Paragraf Narasi

  • Tema

Tema : Tema adalah pokok pembicaraan yang menjadi dasar cerita.

  • Alur atau Plot

Alur atau Plot :Alur atau plot adalah jalinan cerita antara satu peristiwa dengan satu peristiwa lainnya.

  • Setting Tempat dan Waktu

Setting tempat dan waktu : Setting adalah lokasi dan waktu kejadian dalam suatu cerita.

  • Watak atau Karakter

Watak atau Karakter : Watak atau Karakter adalah sifat, perangai atau tingkah laku suatu tokoh.

  • Suasana

Suasana : Suasana adalah kesan yang ditimbulkan sehingga pembaca dapat turut merasakan suasana yang dihadapi oleh pelaku. Dalam suasana terdapat masalah atau konflik dan resolusi atau penyelesaian masalah.

  • Amanat/ Moral Cerita

Amanat/ Moral Cerita : Amanat adalah pesan yang terkandung dalam suatu cerita.

  • Sudut Pandang Pengarang

Sudut Pandang Pengarang : Sudut pandang berhubungan dengan dari mana penulis memandang suatu peristiwa. Umumnya penulis menceritakannya dari sudut pandang orang pertama atau orang ketiga.

Struktur Narasi

Struktur narasi dapat dilihat dari komponen-komponen yaitu: perbuatan, penokohan, latar, dan sudut pandang. Tetapi  dapat juga dianalisis berdasarkan alur (plot) narasi. Berdasarkan bagian-bagian alur yaitu: pendahuluan, perkembangan, dan bagian peleraian.

Bagian penutup, akhir suatu perbuatan titik yang menjadi pertanda berakhirnya tindak tanduk(Keraf, 2007:145-155). Pada dasarnya, penyelesaian sebuah cerita (narasi) ditentukan sendiri oleh pengarangnya.

Khusus untuk narasi ekspositoris, penyelesaian ditentukan oleh pengarangnya. Dalam hal ini, pemecahan masalahnya dapat mengikuti perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh tokoh sendiri.

Berbeda dengan narasi ekspositoris, penyelesaian cerita pada narasi sugestif dapat diserahkan kepada si pengarang dan juga kepada si pembaca. Jadi, akhir dari sebuah cerita itu dapat diselesaikan oleh si pengarang atau di serahkan kepada pembaca.

Demikian pembahasa dari kami tentang Pengertian Narasi : Pola dan Langkah Pengembangan secara lengkap dan jelas, semoga bermanfaat jangan lupa di share sobat WebChecKer.Me semoga bermanfaat